 |
 |
|
 |
 |
| Dunia Wayang Adalah Cermin Dunia Kita |
Perjalanan imaginer itu telah membawa ke Dunia Wayang, saya pulang membawa
cermin kepada anda....
KLIK DISINI untuk mendapat update Ulasan Baru Dunia Wayang Pitoyo Dotcom
|



| Ulasan Baru |
| Kembali ke Paranggelung |
Saturday, 30-January-2010
Adakah yang mengecewakanmu Ngger anakku si Aswatama? Hingga tanpa pamit tanpa berita engkau tinggalkan begitu saja bapakmu ini dan bumi Sokalima. Tidakkah engkau menyayangiku Ngger? Apa salahku Tole?
Dalam kebingungan Durna menemui Harjuna, untuk memasrahkan anak semata wayang si Aswatama yang tanpa pamit telah meninggalkan Sokalima bersamaan dengan Ekalaya dan Anggraeni sahabatnya.
Harjuna, Harjuna, tolonglah aku, susullah Aswatama, dan ajak kembali, jangan perbolehkan ia pergi meninggalkan aku sendirian.
Melihat kecemasan dan kebinggungan sang guru, Harjuna merasa iba. Maka dengan serta-merta Harjuna menyanggupi untuk mencari Aswatama.dan segera berangkat meninggalkan Sokalima. Durna sedikit lega. Ia memandangi Harjuna hingga hilang dari pandangan, kemudian masuk ke ruang dalam untuk menenangkan hati. Jika sudah demikian tak ada cantrik yang berani mengganggu.
|
| Dunia Wayang Kita Semua |
Friday, 01-January-2010 Baru baru ini saya mendapat pertanyaan dari salah seorang sahabat saya. Sebuah pertanyaan yang bisa jadi menantang pemahaman saya akan 'close-up' dunia wayang yang selama ini saya angkat dalam novel novel saya. Pertanyaan yang membuat saya menggali kembali, dan sampai kepada pemahaman bahwa apa yang telah diupayakan para pujangga tanah Jawa begitu 'fit in' mengadopsi dan menggubah kisah dunia wayang ke dalam konteks budaya Jawa.
Pertanyaannya cukup sederhana, apa manfaat kelir dalam pagelaran wayang kulit. Kelir adalah layar putih yang memisahkan sosok wayang kulit dengan penontonnya. Sehingga wayang kulit yang begitu penuh warna, 'hanya' akan dilihat hitam putih bagi penontonnya. Bila anda mencoba mengamati lebih detail dan seksama sebuah wayang kulit karya seniman pengrajin wayang kulit. Dia menatah membuat lobang setiap detail wayang kulit dengan seksama, kemudian memberi warna setiap milimeter dengan ornamen yang dibuat harus bagus di setiap goresannya. Mengapa kemudian harus diperlihatkan secara hitam putih? Apakah yang dilakukan para pengrajin wayang itu sia sia?
|
| Radheya (KARNA) - Masa kecil |
Monday, 19-October-2009 Sambungan dari : Seputar Kelahiran Radheya/Karna
Beberapa hari berlalu sudah, keranjang kayu itu masih terhanyut dan diayun lembut dalam pelukan Sungai Gangga…
Di suatu desa kecil di wilayah Anga yang letaknya tak jauh dari dari istana tempat Kunti tinggal, hiduplah sepasang suami istri yang bernama Atiratha dan Radha, keduanya berasal dari kasta Suta [1]. Sesuai dengan kastanya, Atiratha sehari harinya bekerja sebagai pengemudi kereta perang (Sarathy) Raja Drishtharatha. Pasangan suami istri ini belum dikaruniai keturunan. Setiap hari mereka berdoa dan memohon pada Dewata supaya segera diberi seorang anak. Mereka begitu mendambakan kehadiran seorang anak yang pasti akan menyemarakkan rumah dan mewarnai kehidupan mereka sehari hari.
|
| Destarastra Pemimpin yang Buta |
Tuesday, 29-September-2009
Peristiwa Bale Sigalagala sangat menggemparkan seluruh kawula Hastinapura. Bukan karena bangunan yang elok asri itu ludes terbakar, tetapi terutama karena Anak anak Pandudewanata calon raja yang didambakan rakyat menjadi korban. Pandita Durna yang pada waktu kejadian belum berperan banyak selain sebagai guru dari warga Pandawa dan warga Korawa, ikut prihatin dan bersedih, pasalnya karena dua murid terbaiknya yakni Bimasena dan Herjuna menjadi korban.
Jika oleh banyak orang peristiwa Bale Sigalagala dicatat sebagai tragedi pilu umat manusia, namun tidak oleh Patih Sengkuni. Ludesnya Bale Sigalagala sama artinya dengan sirnanya penghalang yang merintangi ambisinya untuk mendudukan Doryudana di tahta Hastinapura. Oleh karenanya patut disambut dengan sukaria. Tetapi benarkah Sengkuni berhasil menyingkirkan para Pandawa? Memang sementara ini kawula Hastinapura mempercayai bahwa warga Pandawa telah mati.
|
| Radheya (KARNA) - Seputar kelahiran |
Friday, 18-September-2009 Ini adalah cerita singkat tentang kehidupan Radheya atau yang lebih dikenal dengan nama Karna di Indonesia... Radheya/Karna adalah salah satu tokoh terpenting dalam Mahabharata. Meskipun dia terkenal pendekar terhebat yang paling murah hati pada jamannya... tapi kehidupannya penuh cobaan sejak dari lahir.
Seputar kelahiran
Cerita ini bermula saat seorang puteri bernama Kunti masih tinggal di kerajaan ayah angkatnya, Raja Kuntibhoja. Di saat Kunti baru mulai menginjak usia remaja , seorang resi bernama Durvasa berkunjung dan tinggal di istana selama 1 tahun. Kunti ditugaskan oleh ayahnya untuk melayani Resi Durvasa agar sang resi merasa nyaman...
|
| Kumbakarnakah Kita Ini? |
Wednesday, 02-September-2009 Kumbakarna. Ah...Nama itu bagiku sudah tak asing lagi. Tentu kalian pun juga akan merasakan hal yang sama kalau telah akrab dengan kisah Ramayana.
Begitu mendengar namanya yang legendaris, kuyakin, kalian tidak akan membayangkan seorang lelaki muda yang klimis dan rapi seperti bintang sinetron. Kalian juga tak akan membayangkan seorang yang berjenggot panjang, memakai jubah dan surban yang melilit di kepala.
Yang kalian temukan hanyalah seorang raksasa. Ya, raksasa. Lengkap dengan perut gemuknya, dengan taring panjangnya, dengan rambut gimbalnya dan dengan tubuh besarnya.
|
| Tokoh Semar bukan ciptaan Sunan Kalijaga |
Thursday, 23-July-2009
Masih banyak masyarakat Indonesia yang mengira bahwa Semar adalah ciptaan Sunan Kalijaga. Pendapat tersebut amat keliru karena membaca atau mendengar dari sumber yang salah, atau sengaja memutar balikkan fakta. Tokoh Semar sudah ada pada zaman Pra Islam. Tokoh Semar pertama kali ditemukan dalam karya sastra zaman Kerajaan Majapahit berjudul Sudamala. Selain dalam bentuk kakawin, kisah Sudamala juga dipahat sebagai relief dalam Candi Sukuh yang berangka tahun 1439.
Semar atau lengkapnya Kyai Lurah Semar Badranaya adalah nama tokoh panakawan paling utama dalam pewayangan Jawa dan Sunda. Tokoh ini dikisahkan sebagai pengasuh sekaligus penasihat para kesatria dalam pementasan kisah kisah Mahabharata dan Ramayana. Tentu saja nama Semar tidak ditemukan dalam naskah asli kedua wiracarita tersebut yang berbahasa Sansekerta, karena tokoh ini merupakan asli ciptaan pujangga Jawa.
|
| Wayang Gagrak Yogyakarta |
Friday, 26-June-2009
Wayang Tejokusuman dibuat pada tahun 1946 di wilayah Tejokusuman, Yogyakarta. Seperti wayang kulit umumnya, Wayang Tejokusuman memiliki tatahan dan sunggingan yang halus. Perbedaan mendasar yang dapat dilihat dari wayang Tejokusuman ini adalah warna tubuh yang diwarnai krem atau kuning muda.(umumnya wayang diberi warna prada atau warna emas untuk bagian tubuhnya)
|
| Antara Hidup dan Mati |
Saturday, 13-June-2009 Kedatangan Durna di tengah tengah mereka memaksa pertikaian antara Arjuna dan Ekalaya berhenti sementara.
Aku dapat merasakan apa yang kalian rasakan. Sebagai seorang ksatria, perang tanding merupakan cara penyelesaian pamungkas yang terbaik. Kecuali jika salah satu di antara kalian mau mengalah atau mengaku kalah sebelum bertanding. Itu pun tidak mungkin kalian lakukan. Pasti! Karena aku tahu watak keduanya. Maka jangan salah sangka jika aku melarang kalian ber perang tanding. Silakan berperang tanding, asalkan jelas alasannya.
|
| Mengapa Harus Ada Goro goro? |
Tuesday, 26-May-2009 Tokoh Punakawan yang terdiri dari Semar, Nala Gareng, Petruk dan Bagong, adalah tokoh tokoh yang selalu ditunggu tunggu dalam setiap pagelaran wayang di Jawa. Sebenarnya dalam cerita wayang yang asli dari India tidak ada tokoh Punakawan. Punakawan hanyalah merupakan 'Bahasa Halus' dan 'Bahasa Komunikatif' yang diciptakan oleh para Sunan atau Wali di tanah Jawa. Para tokoh Punakawan dibuat sedemikian rupa, mendekati kondisi masyarakat Jawa yang beraneka ragam.Para Wali dalam penyebaran agama Islam selalu melihat kondisi masyarakat baik dari adat istiadat maupun dari budaya yang berkembang saat itu. Wayang merupakan suatu media efektif untuk penyampai misi ini. Namun, para wali memandang bahwa,cerita wayang yang diusung dari negara asalnya India ternyata banyak yang berbau Hindu, animisme dan dinamisme. Mereka juga melihat pakem wayang India tersebut kurang komunikatif. Masyarakat hanya diminta duduk diam melihat sang dalang memainkan Lakonnya.Tentu tidak semua orang mau untuk menikmati adegan demi adegan semacam ini semalam suntuk. Maka para wali menciptakan suatu tokoh yang sekiranya mampu berkomunikasi dengan penonton,lebih fleksibel, mampu menampung aspirasi penonton,lucu dan yang terpenting, dalam memainkan para tokoh punakawan ini sang dalang dapat lebih bebas dalam menyampaikan misinya karena tidak harus terlalu terikat pada pakem yang ada.
|
|
|
|
 |
 |
| Buku Wayang |


|
| Buku Budaya Jawa |

|
|
 |
|
 |
 |