“Pak Soni..,” sapa pak Amat.

"Ya, pak..” yang disapa seperti tergagap-gagap.

“Tolong di check di file saat serah terima mesin dengan pabrik pembuat dulu, kecepatan optimum yang telah direkomendasikan waktu uji coba dengan produk, saat itu berapa ya..?”

“Mesin yang mana, ya., Pak ?”

“Mesin pengisi gelas yang dua buah di ruang produksi utama itu..”

“Oooh, sebentar ya, pak, saya lihat catatan saya dulu..”

Selengkapnya: Balada PT Maju (5)

Pak Amat rupanya masih penasaran. Siang harinya setelah makan siang, bergegas pak Amat menuju ruangan Pak Joni, sang kepala produksi. “Pak Joni, selama ini saya selalu hanya mendapat laporan hasil produksi yang akan masuk ke gudang barang jadi.., sebenarnya berapa persen sih dari sekian barang hasil produksi yang ditolak bagian QC..?”

“Ah, ndak banyak kok, pak! Paling hanya beberapa gelas tiap shiftnya..”

Pak Amat kemudian melangkah mendekati telepon, mengangkat telepon, dial beberapa angka, tak lama kemudian memulai pembicaraan, “Halo.., pak Asmuni.?”, sejenak berhenti kemudian melanjutkan, “Pak, tolong saya dikasih catatan QC hari kemarin, berapa jumlah produk gelas air mineral yang ditolak QC..”. Selesai berucap pak Amat memencet tombol speaker pada teleponnya, sehingga suara di seberang telepon bisa terdengar di ruangan itu.

Selengkapnya: Balada PT Maju (6)

Lagi-lagi pak Amat mendapat sesuatu yang baru! Mari coba kita bantu dia. Dari informasi pak Asmuni bagian Quality Control, ternyata diketahui setelah sampai di gudang barang jadi, dari 2180 karton box yang dihasilkan ternyata 50 karton box diantaranya di-tolak QC. Sesuatu yang luput dari pengamatan pak Joni di produksi. Dan ini berarti 2,2% produk di-reject setelah sampai di gudang barang jadi, atau hanya 97,8% yang bisa dijual.

Kemudian masih di ruang produksi, yaitu di seksi memasukkan ke karton box, atau bagian yang bertugas memasukkan gelas ke karton box, menemui 2560 gelas tidak layak untuk dimasukkan ke dalam karton, yang berarti 2,9%-nya. Dengan kata lain yang layak masuk karton hanya 97,1%-nya!

Selengkapnya: Balada PT Maju (7)

Dari ilustrasi di atas anda bisa lihat bahwa sebenarnya, dari fakta yang ada, untuk menaikkan kapasitas produk bulan berikutnya yang 30%, melakukan investasi untuk pembelian satu buah mesin lagi bukanlah pilihan satu-satunya. Masih ada pilihan lain yang bisa dan sangat mungkin untuk ditempuh.

Dari ilustrasi di atas bisa kita tarik pengertian sebagai berikut : Bahwa  kedua mesin PT MAJU pada kenyataanya –walaupun berjalan selama 24 jam nonstop- masih ‘hanya’ beroperasi pada 41,5% kemampuannya. Artinya, bila saja pak Amat beserta seluruh jajarannya di perusahaan PT MAJU mau dan mampu untuk menaikkan kemampuan kedua mesin total misalkan sampai 80% saja, itu sudah lebih dari cukup untuk dapat memenuhi kenaikkan permintaan produksi 30% bulan depan. Itu berarti pak Amat tidak perlu dipusingkan untuk mencari dan mengeluarkan uang seratus juta investasi mesin! Yang diperlukan hanyalah telaah terhadap ukuran kemampuan mesin tadi dan mencari daerah-daerah untuk melakukan perbaikan dimana kemampuan mesin bisa ditingkatkan.

Selengkapnya: Balada PT Maju (8)

Page 2 of 3

Ada sebuah perusahaan fiktif bernama PT MAJU. Perusahaan ini memproduksi air mineral dalam kemasan gelasplastik. Mesin yang dimiliki perusahaan ini adalah mesin pembentuk gelas plastik sekaligus mengisi air mineral, sebanyak dua unit.

Bulan ini pesanan begitu meningkat. Bagian pemasaran yang telah berhasil melakukan promosi membuat bagian produksi jungkir-balik selama dua puluh empat jam menjalankan mesinnya untuk mengejar permintaan bagian pemasaran. Dan sudah terlihat di depan mata, bulan depan pesanan bagian pemasaran naik 30 % dari bulan sekarang. Sementara bulan ini mesin telah jalan siang malam, bahkan minggu pun masuk untuk mengejar kekurangannya.

“Gila! Harus segera saya usulkan membeli satu unit mesin lagi untuk mengejar permintaan bulan depan,” teriak Pak Joni, sang kepala produksi. “Dan awal bulan depan mesin itu sudah di sini..!” imbuhnya.   ...selengkapnya

Bookmark This

Follow Us

Powered by CoalaWeb

 

KupasPitoyo, KumpulanTulisan Pitoyo Amrih, yang juga berbicara tentang Pemberdayaan Diri, ..pemberdayaan berkesinambungan bagi diri sendiri, keluarga, dan bangsa... khususnya melalui budaya... selengkapnya..

Pitoyo Amrih.... terlibat aktif dalam perumusan penerapan konsep-konsep TPM (Total Productive Maintenance) di perusahaan tempatnya bekerja. Juga pernah memimpin kajian dan penerapan rumusan OEE (Overall Equipment Effectiveness) yang bisa.....  ...selengkapnya