Lama ruangan menjadi sepi. Pak Amat tetap duduk di situ. Kok, petugas shift sore lama bener, ya? Begitu mungkin pikirnya. Seperempat jam kemudian tampak sang operator giliran sore untuk kedua mesin masuk ruangan produksi.

“Sore, pak..,.”sapa sang operator.

“Sore.., bukannya anda seharusnya masuk pukul empat?”, tanya pak Amat.

“Betul, pak! Kami masuk jam empat. Setelah absen di pos jaga depan kami harus memarkir kendaraan kami dulu, kemudian ganti baju di locker, baru masuk kemari, pak..”

“Hmm..” kembali pak Amat tampak mengernyitkan dahi.  

 Malam semakin larut, pak Amat masih juga duduk disitu. Suatu ketika, mesin A  tiba-tiba berhenti. Sang operator tampak kebingungan atas berhentinya mesin. Kutak-kutiksana sini sia-sia tidak juga membuat mesin kembali beroperasi.

“Ada apa..?” tanya pak Amat.

"Entahlah, pak..,”jawab sang operator. “Seminggu ini mesin A ini memang sering rewel. Sebentar saya panggil si Bejo..”. Bejo adalah teknisi jaga yang bertugas malam itu.

Hampir satu jam baru bisa membuat mesin jalan kembali.

“Hmm..” lagi-lagi pak Amat tampak mengernyitkan dahi. 

Coba kita bantu pak Amat atas apa yang saat ini dibenaknya. Pada setiap shiftnya, tampak bahwa mesin berhenti setiap rehat minum kopi, taruh kata selama sepuluh menit, yang misal terjadi di jam sepuluh pagi dan di jam setengah dua siang. Ditambah lagi berhenti saat jam makan siang, selama satu jam. Kita lihat bahwa setiap pergantian shift, ternyata mesin juga harus berhenti selama seperempat jam. Berarti dalam satu shift –atau dalam kurun waktu delapan jam-, mesin ternyata berhenti kira-kira satu setengah jam. Yang berarti, sebenarnya kira-kira hampir 20% waktunya, mesin berhenti beroperasi! Belum termasuk waktu sebentar-sebentar berhenti ketika sang operator melakukan setting mesin seperti yang didapati pak Amat di pagi hari. Dan mesin A yang berhenti satu jam karena kerusakan. Kita bulatkan saja, bahwa kira-kira mesin A berhenti sekitar 23% dan mesin B 21%. Sehingga total kedua mesin bisa dianggap berhenti selama 22% dari waktunya.

Sampai disini, kita telah mengenal salah satu dari faktor OEE, yaitu yang disebut sebagai TINGKAT KETERSEDIAAN mesin (Availability). Dan sehari itu pak Amat duduk di ruang produksi telah mendapat sebuah pelajaran yang berharga, bahwa ternyata TINGKAT KETERSEDIAAN kedua mesinnya hanya berkisar pada angka 78%!

(bersambung)

Pitoyo Amrih

Ada sebuah perusahaan fiktif bernama PT MAJU. Perusahaan ini memproduksi air mineral dalam kemasan gelasplastik. Mesin yang dimiliki perusahaan ini adalah mesin pembentuk gelas plastik sekaligus mengisi air mineral, sebanyak dua unit.

Bulan ini pesanan begitu meningkat. Bagian pemasaran yang telah berhasil melakukan promosi membuat bagian produksi jungkir-balik selama dua puluh empat jam menjalankan mesinnya untuk mengejar permintaan bagian pemasaran. Dan sudah terlihat di depan mata, bulan depan pesanan bagian pemasaran naik 30 % dari bulan sekarang. Sementara bulan ini mesin telah jalan siang malam, bahkan minggu pun masuk untuk mengejar kekurangannya.

“Gila! Harus segera saya usulkan membeli satu unit mesin lagi untuk mengejar permintaan bulan depan,” teriak Pak Joni, sang kepala produksi. “Dan awal bulan depan mesin itu sudah di sini..!” imbuhnya.   ...selengkapnya

Bookmark This

Follow Us

Powered by CoalaWeb

 

KupasPitoyo, KumpulanTulisan Pitoyo Amrih, yang juga berbicara tentang Pemberdayaan Diri, ..pemberdayaan berkesinambungan bagi diri sendiri, keluarga, dan bangsa... khususnya melalui budaya... selengkapnya..

Pitoyo Amrih.... terlibat aktif dalam perumusan penerapan konsep-konsep TPM (Total Productive Maintenance) di perusahaan tempatnya bekerja. Juga pernah memimpin kajian dan penerapan rumusan OEE (Overall Equipment Effectiveness) yang bisa.....  ...selengkapnya