Ini perlu saya sampaikan disini di awal, karena mungkin anda akan banyak menjumpai pada berbagai literatur bahwa OEE (Overall Equipment Effectiveness) adalah ‘angka produktifitas’ mesin. Sebagian lagi menyebut ‘angka efisiensi’ mesin. Walaupun sudah jelas disebutkan dalam singkatannya bahwa OEE adalah bicara masalah efektifitas.

Tapi, berdasar pendapat saya diatas, sebenarnya anggapan bahwa OEE ini adalah ‘angka produktifitas’ mesin atau ‘angka efisiensi’ mesin, adalah anggapan yang tidak sepenuhnya keliru. Karena dengan OEE kita juga bisa mengetahui angka produktifitas mesin, misalnya dengan memodifikasi satuan dari prosentase menjadi output per machinehour misalnya.

Atau bisa juga bila kita mau melihat OEE sebagai kajian tentang efisiensi, ketika kita kemudian membandingkan antara output –dari angka OEE mesin tersebut- dengan input –dari angka OEE, output mesin proses sebelumnya-. Dan itu semua boleh-boleh saja dilakukan dalam rangka semakin melengkapi tampilan ‘dashboard’ jalannya ‘mobil’ perusahaan kita dari waktu ke waktu. Selama semua kajian dan data yang diolah tersebut bisa dimanfaatkan dan menggambarkan sesuatu yang berguna bagi pengambil keputusan. Kalau tidak? Mengapa repot-repot, OEE saja menurut saya sudah cukup memberikan informasi kemampuan mesin kepada kita.

Dan bila kita kaji lebih dalam, OEE sebenarnya tidak lebih sebagai ‘alat ukur’ bagi kinerja mesin kita. Seperti halnya jam sebagai alat ukur waktu atau timbangan sebagai alat ukur berat. Hasil dari alat ukur ini tidak akan berarti apa-apa bila kita memang hanya sekedar melihat hasil ukuran yang diperlihatkan oleh OEE.

Pada awal-awal ‘endemi’ OEE ini di Amerika, sempat OEE ini disebut dengan istilah sebagai ‘magic number’, yang berarti bahwa angka OEE adalah sebuah stempel terhadap prestasi mesin yang dibuat atau diciptakan yang bisa menciptakan popularitas tersendiri bagi mesin merk-merk tertentu sebagai strategi pemasaran mesin mereka. Tapi dengan berjalannya waktu, paradigma itu semakin dapat diperbaiki ketika kemudian disadari bahwa OEE tidak lebih sebagai alat ukur kinerja mesin, dan hasil pengukuran itu hanya akan bermanfaat ketika kita menggunakannya untuk melakukan perbaikan berkesinambungan terhadap sistem mesin atau peralatan itu.

OEE adalah sebuah metoda untuk mengukur (alat ukur) untuk mengetahui efektifitas sebuah sistem mesin atau peralatan yang menghasilkan produk dalam menjalankan fungsinya.

Dan OEE menurut saya hanya dapat terasakan manfaatnya bila diterapkan untuk pengukuran mesin-mesin produksi yang dapat secara jelas terukur satuan produk yang dihasilkan berdasarkan siklus kerja mesinnya, dan satuan itulah yang menjadi parameter nilai tambah secara ekonomis bagi perusahaan yang memanfaatkannya.

Sebagai contoh, dengan telaah yang dalam, mungkin anda bisa memformulasikan OEE untuk sebuah mesin Generator yang menghasilkan daya listrik sebagai produk anda (seperti PLN). Tapi apa gunanya? Selain karena satuan produknya mungkin tidak terkorelasi langsung dengan siklus kerja mesin (putaran Genset tidak bisa dikorelasikan dengan daya listrik yang dihasilkan), juga mengukur dengan metoda perhitungan efisiensi akan jauh lebih membantu analisa kinerja mesin Genset tersebut.

Pernah juga suatu kali saya diminta untuk memformulasikan OEE pada semua mobil armada pada sebuah jasa transportasi. Melalui diskusi, wawancara dan telaah terhadap semua yang terlibat didalamnya, saya bisa pada akhirnya memformulasikan bentuk kajian pengukuran OEE untuk mobil armadanya. Tapi tetap diakhir kajian, saya sampaikan sebagai wacana bahwa OEE untuk mobil armada ini terlalu ‘diada-adakan’. Begitu banyak pencatatan, pendataan, pengolahan, dan pelaporan dilakukan, sementara nilai tambah yang diperoleh dari pelaporan itu tidaklah begitu penting memperlihatkan kinerja mobil armada tersebut.

Karena, kalau bicara mengenai kinerja peralatan, saya pikir untuk mobil armada, tolok ukur efisiensi sudahlah cukup. Misalnya dengan mematok angka kilometer setiap liternya. Kemudian dari waktu ke waktu mencatat deviasi yang terjadi terhadap angka acuan. Dari situ sudah cukup memperlihatkan kinerja mobil armada. Tanpa perlu OEE!

Atau bila dibutuhkan data untuk bisa memberikan feed-back yang berbasis data obyektif kepada para operator pengguna armada di lapangan (sopir dan supervisor-nya). Bisa dicarikan paramater-parameter lain yang lebih mudah dan lebih menggambarkan kondisi sebenarnya, misalnya dengan parameter biaya operasi dan pemeliharaan tiap machinehour-nya, atau parameter pada masalah costumer satisfaction. Karena toh perusahaan armada adalah perusahaan jasa. Jadi bicara OEE pada contoh ‘mesin’ mobil armada ini, menjadi sesuatu hal yang saya pikir terlalu berlebihan.

Pitoyo Amrih

Ada sebuah perusahaan fiktif bernama PT MAJU. Perusahaan ini memproduksi air mineral dalam kemasan gelasplastik. Mesin yang dimiliki perusahaan ini adalah mesin pembentuk gelas plastik sekaligus mengisi air mineral, sebanyak dua unit.

Bulan ini pesanan begitu meningkat. Bagian pemasaran yang telah berhasil melakukan promosi membuat bagian produksi jungkir-balik selama dua puluh empat jam menjalankan mesinnya untuk mengejar permintaan bagian pemasaran. Dan sudah terlihat di depan mata, bulan depan pesanan bagian pemasaran naik 30 % dari bulan sekarang. Sementara bulan ini mesin telah jalan siang malam, bahkan minggu pun masuk untuk mengejar kekurangannya.

“Gila! Harus segera saya usulkan membeli satu unit mesin lagi untuk mengejar permintaan bulan depan,” teriak Pak Joni, sang kepala produksi. “Dan awal bulan depan mesin itu sudah di sini..!” imbuhnya.   ...selengkapnya

Bookmark This

Follow Us

Powered by CoalaWeb

 

KupasPitoyo, KumpulanTulisan Pitoyo Amrih, yang juga berbicara tentang Pemberdayaan Diri, ..pemberdayaan berkesinambungan bagi diri sendiri, keluarga, dan bangsa... khususnya melalui budaya... selengkapnya..

Pitoyo Amrih.... terlibat aktif dalam perumusan penerapan konsep-konsep TPM (Total Productive Maintenance) di perusahaan tempatnya bekerja. Juga pernah memimpin kajian dan penerapan rumusan OEE (Overall Equipment Effectiveness) yang bisa.....  ...selengkapnya