Masih juga belum memberikan kesan yang tegas terhadap ketiga kata tersebut. Saya mencoba mengambil pengertian logika ketiga hal tersebut pada bidang engineering. Dalam pengertian teknis bidang engineering, ketiga kata ini dapat dijelaskan melalui ilustrasi sebagai berikut :

Pertama kali mungkin saya lebih enak menjelaskan Efisiensi. Dalam bidang engineering, efisiensi selalu dikaitkan pada sistem, mesin atau peralatan, yang menyatakan sampai dimana sebuah proses pada sistem tersebut mampu merubah apa yang menjadi masukan (input), sehingga menjadi keluaran (output). Dan tolok ukur antara input dan output haruslah sama. Sementara output yang termanfaatkan pastilah lebih kecil –atau sama untuk proses ideal- daripada input. Dan sebagian besar pembahasan akan hal ini hampir selalu dikaitkan dengan proses pengkonversian energi.

Misalnya pada gambaran di atas, efisiensi proses sistem tersebut adalah output dibagi input pada tinjauan tolok ukur yang sama. Seratus perses adalah kondisi ideal dimana output sama dengan input. Contoh adalah, bila perusahaan anda memiliki boiler. Sebuah boiler tentunya bertugas menghasilkan steam. Energi tiap waktu steam yang dihasilkan secara aktual misalnya anda bisa ukur dengan jumlah A. Sementara inputan boiler tersebut, baik air yang dipakai, bahan bakar dan energi listriknya, ketika menghasilkan energi aktual tersebut, diukur, kemudian dijumlahkan, menghasilkan angka B. Maka efisiensi boiler tersebut adalah A/B. Dan itu pasti kurang dari seratus persen, karena sebagian energi output itu ‘pergi’ dalam bentuk energi panas terbuang, energi gas buang, energi suara dan sebagainya. Semakin tinggi efisiensi bisa langsung diberi stempel lebih baik karena memang A dan B membandingkan satuan ukur yang sama.

Sementara Produktivitas, sebenarnya secara pengertian sama dengan efisiensi, hanya saja produktivitas ini lebih ‘bebas’. Tetap membandingkan output dan input, tapi bisa saja output dan input tidak memiliki korelasi dalam hal satuan dan tolok ukur.

Misalnya untuk contoh boiler diatas, dengan produktifitas, anda tidak terikat hanya dengan membandingkan energi –‘yang masuk’ dengan ‘yang keluar termanfaatkan saja’- , tapi juga bisa membandingkan –misalnya- dengan jumlah energi steam yang dihasilkan boiler tiap manhour-nya, atau tiap machinehour-nya. Dan sebagainya.

Apakah yang lebih besar lebih baik, belum tentu! Tergantung skala ukurnya, pembandingnya dan biasanya selalu dikaitkan dengan perhitungan nilai ekonomisnya. Misalnya kebetulan anda adalah perusahaan yang memiliki boiler, dan steam adalah produk yang anda jual, maka anda akan selalu memindai segala alternatif poduktifitas seperti kilogram steam yang dihasilkan per manhour-nya, kilogram steam per machinehour-nya, kilogram per energi listrik yang dipakai, kilogram per liter bahan bakar, dan sebagainya. Yang bila semua digabungkan, anda bisa menelaah nilai rupiah per kilogram steam-nya sebagai harga jual produk anda. Dan ketika anda memproduksi steam dari hari ke hari, parameter-parameter produktifitas di atas bisa menjadi semacam sistem kontrol bagi kesinambungan usaha anda.

Efektifitas mungkin lebih mudah dalam menjelaskannya, yaitu bila anda melihat pada gambar input-proses-output diatas, maka efektifitas akan selalu membandingkan output kenyataanya dengan output seharusnya (bisa dari teori, tolok ukur acuan, kesepakatan, perhitungan ideal, dan sebagainya).

Mungkin anda bertanya mengapa saya begitu rumitnya berusaha menjelaskan ketiga kata di atas. Karena dari penjelasan diataslah harapannya anda bisa mengerti kenapa memakai istilah Overall Equipment Effectiveness, bukan Efficency atau Productivity. Karena berangkat dari tinjauan terhadap perbandingan ‘hasil kenyataannya’ dengan ‘hasil seharusnya’. Dan bagaimana ‘hasil seharusnya’ itu? Akan tetap selalu terbuka terhadap diskusi dan argumentasi tergantung kita memandang mesin kita dalam melakukan fungsinya diharapkan akan menghasilkan output sampai seberapa.

(bersambung)

Pitoyo Amrih

Ada sebuah perusahaan fiktif bernama PT MAJU. Perusahaan ini memproduksi air mineral dalam kemasan gelasplastik. Mesin yang dimiliki perusahaan ini adalah mesin pembentuk gelas plastik sekaligus mengisi air mineral, sebanyak dua unit.

Bulan ini pesanan begitu meningkat. Bagian pemasaran yang telah berhasil melakukan promosi membuat bagian produksi jungkir-balik selama dua puluh empat jam menjalankan mesinnya untuk mengejar permintaan bagian pemasaran. Dan sudah terlihat di depan mata, bulan depan pesanan bagian pemasaran naik 30 % dari bulan sekarang. Sementara bulan ini mesin telah jalan siang malam, bahkan minggu pun masuk untuk mengejar kekurangannya.

“Gila! Harus segera saya usulkan membeli satu unit mesin lagi untuk mengejar permintaan bulan depan,” teriak Pak Joni, sang kepala produksi. “Dan awal bulan depan mesin itu sudah di sini..!” imbuhnya.   ...selengkapnya

Bookmark This

Follow Us

Powered by CoalaWeb

 

KupasPitoyo, KumpulanTulisan Pitoyo Amrih, yang juga berbicara tentang Pemberdayaan Diri, ..pemberdayaan berkesinambungan bagi diri sendiri, keluarga, dan bangsa... khususnya melalui budaya... selengkapnya..

Pitoyo Amrih.... terlibat aktif dalam perumusan penerapan konsep-konsep TPM (Total Productive Maintenance) di perusahaan tempatnya bekerja. Juga pernah memimpin kajian dan penerapan rumusan OEE (Overall Equipment Effectiveness) yang bisa.....  ...selengkapnya