Kembali mungkin saya musti menyarankan sebelum baca artikel ini sebaiknya juga baca tulisan sambungan sebelumnya tentang ini (Net Operating Time),.. juga sebelumnya (Operating Time),.. dan sebelumnya (Loading Time),.. dan sebelumnya (Gambaran OEE) Laughing. Tinggal klik link tersebut. Bukan apa-apa, agar gambaran besarnya lebih terlihat.

Sampai pada Net Operating Time, kita bisa membuat pengertian seperti ini: Adalah waktu bersih yang 'sebenarnya' digunakan oleh mesin untuk benar-benar menghasilkan produk sesuai kapasitas teori-nya. Saya beri tanda kutip pada kata 'sebenarnya', karena pada kenyataannya, mesin beroperasi pada rentang waktu Operating Time. Pada kenyataannya mesin kita rencanakan untuk beroperasi pada rentang waktu Loading Time. Artinya, tanpa kita tahu konsep OEE ini, mungkin di benak kita, mesin dianggap sudah beroperasi memakan waktu sesuai rencananya (Loading Time), atau yang lebih progresif kita akan menganggap mesin sudah beroperasi sesuai waktu dia terlihat benar-benar dijalankan (Operating Time).

Jadi pada kata 'sebenarnya', saya ingin memperlihatkan pada kita semua bahwa waktu yang digunakan mesin beroperasi yang nyata (tapi tidak dengan mudah terlihat) adalah Net Operating Time. Saya ambil contoh nyata misal kita merencanakan mesin berjalan dalam satu hari dioperasikan selama 8 jam (Loading Time). Kemudian dihitung-hitung dengan konsep OEE ini, ketemu Operating time, waktu mesin beroperasi adalah -misalnya- 6 jam. Apa yang bisa kita lihat dan seolah nyata adalah mesin berjalan selama 6 jam. Tapi dengan konsep perhitungan ini kita bisa tahu bahwa sebenarnya mesin hanya berjalan selama -misal dari perhitungan didapat- 5 jam, yaitu Net Operating Time. Kita menganggap mesin berjalan selama 6 jam, tapi sebenarnya ada waktu hilang selama 1 jam. Waktu yang bila kita bisa menganalisa akar masalah losses-nya, bisa dikendalikan, sehingga tanpa menambah waktu operasi mesin, akan didapat output produk yang lebih banyak.

Nah, di dalam waktunya menghasilkan produk ini (Net Operating Time), kita akan menelaah bahwa dari sekian banyak produk yang dihasilkan, ada produk yang tidak berada dalam rentang kualitas penerimaan. Bukan produk baik. Sehingga bila kita hitung lebih dalam lagi, seharusnya akan kita dapat waktu yang benar-benar dipakai mesin untuk menghasilkan produk baik. Dalam konsep OEE didefinisikan sebagai Valuable Operating Time.

Hitung-hitungannya sih sebenarnya sederhana. Misalnya melanjutkan cerita contoh tadi, dari 5 jam Net Operating time, ada 1000 produk yang keluar, diperiksa kualitas-nya ternyata ada -misalnya- 100 produk tidak masuk spesifikasi (10% ptoduk yang dihasilkan), maka sebenarnya ada waktu hilang bagi mesin untuk menghasilkan produk baik sebesar 0,5 jam. Artinya Valuable Operating Time mesin ini adalah 4,5 jam.

Lalu apa wujud losses yang 0,5 jam itu sehingga kita bisa menganalisa-nya untuk kemudian mengupayakan eliminasi-nya. Ada dua golongan losses besar disana:

Reject Parts. Ini mungkin lebih mudah dijelaskan, dan semua orang bisa dengan mudah sepakat. Adalah waktu yang terkonsumsi oleh mesin untuk menghasilkan produk yang tidak baik. Akar masalahnya bisa beragam. Sejak dari masalah desain produk, pemilihan mesin, masalah pada handling bahan, masalah pengoperasian itu sendiri, dsb. Beberapa perusahaan yang saya tahu ada yang kemudian juga semakin membuat detail cakupan losses Reject ini agar semakin bisa dipertajam analisa improvement nantinya. Misalnya memisahkan antara reject produk yang benar-benar tidak bisa diapa-apakan lagi. Ada kelompok reject produk yang ternyata bisa diproses ulang (umum disebut rework), entah itu sekedar dikemas ulang, atau bahkan ada yang sampai diproses ulang bila produk memang dimungkinkan demikian.

Dalam perkembangannya kemudian -ketika itu- ada bagian dari reject yang terjadi sistematis, karena memang produk dihasilkan dari kerja mesin yang berada tidak pada kondisi optimum-nya. Misalnya saat mesin mengalami proses penurunan kecepatan (deceleration) menjelang berhenti, atau mengalami acceleration dari berhenti menuju kecepatan setting mesin. Pada masa ini, hampir bisa dipastikan, produk yang dihasilkan adalah produk yang tidak memenuhi spesifikasi. Sehingga praktisi kemudian membuat cara mudah, dimana produk tidak baik pada kejadian ini tidak lagi ditentukan melalui pemeriksaan uji kualitas, tapi cukup dari penetapan waktu menjelang berhenti dan sejak berhenti, dimana produk yang dihasilkan pada ketetapan waktu tersebut langsung dianggap reject. Kelompok reject ini, agar bisa distratifikasi dan dianalisa dengan baik, kemudian disendirikan dan diberi terminologi Reduced Yield. Kurang lebih bermakna, adalah waktu yang secara sengaja ditetapkan sehingga membuat proses terkurangi nilai Yield-nya.

Di terminologi Six-Sigma sendiri, yang saya tahu, kemudian membuat glossary definisi untuk mempertegas maknanya, bahwa Reject parts terdiri atas dua macam reject produk:

1. Yang memang terjadi karena ketidaksesuaian bahan atau proses produksi -entah dimana- yang kemudian menyebabkan produk tidak memenuhi spesifikasi. Yang kemudian secara spesifik diberi istilah Process Defects.

2. Yang secara sengaja ditetapkan waktu dimana saat mesin menghasilkan produk yang dianggap tidak masuk spesifikasi, yang disebut dengan Reduced Yield ini.

Yang perlu diingat di sini, baik itu Reject Parts (termasuk yang memecah definisinya sehingga ada Rework disana), Reduced Yield dan Process Defect, adalah besaran dengan satuan waktu! Bukan jumlah unit. Yang dalam menghitung kita memang perlu mengukur jumlah Reject Unit, Good Products dan Total Unit (dalam satuan unit: bisa kg, bisa packs -botol, strip, blister, sachet, dsb-, bisa satuan volume).

Dimana persamaannya: Valuable Operating Time = (Good Product /Total Unit) x Net Operating Time.

Satu hal lagi yang perlu saya tekankan agar kita cermat di sini adalah perihal Reworks, produk jelek yang bisa diproses ulang. Ada yang menghitung jumlah nya dan dimasukkan sebagai definisi Reject Unit. Pilihan ini memberi konsekuensi agar kita berhati-hati dalam memakai angka Net Operating Time untuk menghitung Valuable Operating Time-nya. Net Operating Time yang digunakan adalah diluar waktu proses rework-nya. Atau ada pilihan lebih praktis dimana kita tidak perlu menghitung jumlah unit rework, dan biarkan proses rework diukur dalam perhitungan Operating Time. Losses yang tertampil karena adanya rework ini akan masuk dalam besaran Reduced Speed.

Ada besaran yang dinamai ROQ (Rate of Quality) yang dihitung dari persamaan: (Valuable Operating Time / Net Operating Time) x 100%. Satuannya persen.

Pitoyo Amrih

 

Ada sebuah perusahaan fiktif bernama PT MAJU. Perusahaan ini memproduksi air mineral dalam kemasan gelasplastik. Mesin yang dimiliki perusahaan ini adalah mesin pembentuk gelas plastik sekaligus mengisi air mineral, sebanyak dua unit.

Bulan ini pesanan begitu meningkat. Bagian pemasaran yang telah berhasil melakukan promosi membuat bagian produksi jungkir-balik selama dua puluh empat jam menjalankan mesinnya untuk mengejar permintaan bagian pemasaran. Dan sudah terlihat di depan mata, bulan depan pesanan bagian pemasaran naik 30 % dari bulan sekarang. Sementara bulan ini mesin telah jalan siang malam, bahkan minggu pun masuk untuk mengejar kekurangannya.

“Gila! Harus segera saya usulkan membeli satu unit mesin lagi untuk mengejar permintaan bulan depan,” teriak Pak Joni, sang kepala produksi. “Dan awal bulan depan mesin itu sudah di sini..!” imbuhnya.   ...selengkapnya

Bookmark This

Follow Us

Powered by CoalaWeb

 

KupasPitoyo, KumpulanTulisan Pitoyo Amrih, yang juga berbicara tentang Pemberdayaan Diri, ..pemberdayaan berkesinambungan bagi diri sendiri, keluarga, dan bangsa... khususnya melalui budaya... selengkapnya..

Pitoyo Amrih.... terlibat aktif dalam perumusan penerapan konsep-konsep TPM (Total Productive Maintenance) di perusahaan tempatnya bekerja. Juga pernah memimpin kajian dan penerapan rumusan OEE (Overall Equipment Effectiveness) yang bisa.....  ...selengkapnya