Untuk yang langsung mendarat di halaman ini dan belum menyimak cerita sebelumnya tentang gambaran OEE dan kupasan satu demi satu dari Loading Time, kemudian Operating Time, mungkin sebentar bisa melihat garis besarnya di sana dengan harapan bisa menelusurinya dari perspektif yang sama dalam memahami OEE ini.

Ketika dalam cakupan Operating Time kita sudah bisa memberi stempel sebuah mesin dengan predikat tersedia (Available), maka tahap berikutnya, tolok ukur yang harus kita pertanyakan kemudian adalah: Di waktu tersedia mesin tersebut sebenarnya seberapa efisien sih kinerjanya? Kondisi 'tersedia' tapi tidak efisien juga menjadi hal yang memberi beban terhadap operasional mesin khususnya dan proses produksi pada umumnya. Beban yang bisa jadi tidak kelihatan bin tidak disadari. Mesin tersedia siap jalan sih, tapi sering berhenti-berhenti karena sebuah sebab. Atau mesin jalan lancar,.. betul, jalan lancar,.. tapi tidak efisien, output produk yang dihasilkan tidak pada jumlah yang seharusnya. Sehingga penting kemudian untuk mencermati apa saja losses di dalam Operating Time ini. Yang membuat mesin menjadi tidak efisien kinerjanya.

Anda bisa lihat pada bagannya, mari kita lihat hal-hal yang menggerogoti Operating Time. Yang pertama adalah kondisi Idling. Terminologi Idle merujuk pada kondisi mesin yang siap dioperasikan, tapi ada sesuatu hal yang membuat mesin tidak bisa dijalankan. Mari kita coba cermati apakah 'sesuatu hal' itu. Banyak praktisi yang langsung menghubungkan sifat idle pada ketiadaan input, bisa berupa energi bagi mesin, bisa berupa bahan awal mesin tersebut. Atau bisa juga mesin siap, bahan siap, energi siap, karena misal pada mesin harus dioperasikan manusia, sementara tidak ada tenaga operator di sana. Mari coba kita kupas satu-satu.

Idle karena ketiadaan sumber energi. Mungkin saya buat umum dulu menjadi: Losses mesin karena ketiadaan energi. Energi di sini bisa kita sepakati adalah segala bentuk energi, yang umum misal energi listrik, kebutuhan compressed-air bila mesin membutuhaknnya, air, steam (uap air). Saya buat umum dulu karena bisa jadi pada akhirnya kita masukkan 'kantong' losses ini pada pos definisi lain. Selama konsisten menurut saya sah-sah saja. Taruh kata misal ada mesin tidak rusak tapi tidak beroperasi karena central compressor rusak, membuat tekanan udara turun sehingga tak mampu menggerakkan mesin. Bolehlah losses ini masuk sebagai idle. Tapi saya sendiri bisa memahami bila pada industri tertentu memilih memasukkan kondisi ini pada losses Down Time. menganggap Compressor, walaupun bekerja sentral, tetap manjadi ruang lingkup 'mesin dan peralatan'. Yang penting harus konsisten, sehingga diakhir perthitungan besaran-besaran akumulasi losses yang ada bisa langsung memberikan gambaran kepada kita atas apa yang terjadi.

Idle karena ketiadaan bahan awal untuk diolah mesin. Ambil contoh mesin kemas botol. Mesin siap, tapi bahan awal tidak tersedia. Bahan awal ini bisa berarti produk yang akan diisikan dalam botol, atau botol itu sendiri, atau mungkin tutup botol bila memang kemasan botol di desain terpisah tutupnya. Pengertian ini bisa diperluas pada mesin dihentikan karena masalah di proses selanjutnya. Hal ini bisa menjadi tipikal untuk mesin in-line. Mesin kemas botol yang dihubungkan oleh ban berjalan ke mesin label misalnya. Pada kondisi ini mesin siap, botol ada, produk yang akan diisikan ada, tutup botol juga cukup tersedia, tapi mesin berikutnya dalam hal ini mesin label tidak bisa beroperasi, apa pun sebabnya. Terkadang bila mesin kemas botol tetap dijalankan kemudian menampung sementara produk selama mesin label rusak justru membuat tidak efisien ke seluruhan sistem proses produksi, maka diputuskan mesin kemas botol juga berhenti. Idle.

Idle karena ketidakhadiran operator. Mesin manual dan semi otomatis yang membutuhkan kehadiran orang dalam pengoperasiannya memungkinkan terjadi losses ini.

Minor Stoppage adalah losses yang juga menggerogoti Operating Time. Secara umum ditafsirkan sebagai 'berhenti sebentar-sebentar'. Dan pada aplikasinya terkadang benyak pertanyaan: Berapa batas sebentar untuk kita catat sebagai losses? Bagaimana  dengan tipe high-speed machine dimana berhenti sebentar yang terjadi bisa jadi masih lebih cepat dari waktu untuk mencatat? Banyak faktor memang. Tergantung macam industrinya, industri makanan dan farmasi akan beda pendekatannya, steril dan non-steril akan beda isunya. Juga tergantung jenis mesinnya sendiri, mesin kontinyu atau bukan? in-line? Ambil contoh misal mesin kemas pasti akan beda pendefinisian minor-stop, dengan mesin oven misalnya. Semua hal ini yang penting untuk dicermati, ditelaah, kemudian ditetapkan sehingga konsisten dalam mengukur. Menjadikan hasil pengukuran OEE menjadi berarti dan tepat untuk pengambilan keputusan.

Reduced Speed. Sebelum bicara lebih dalam tentang losses ini. Kita perlu cermati lebih dulu besaran Net Operating Time itu sendiri. Bila Operating Time didapat dari langsung mengurangi Loading Time dengan berbagai losses hasil pencatatan, Net Operating Time justru bisa dihitung diawal berdasar variabel kapasitas/kecepatan mesin acuan yang kita tentukan, dan jumlah output produk yang dihasilkan mesin tersebut. Persamaannya sederhana: [Jumlah output / Kecepatan]. Untuk memudahkan biasanya dibuat besaran yang disebut TCT (Theoretical Cycle Time) yaitu [1/Kecepatan]. Sementara Jumlah output umum memakai istilah Proceed Amount. Persamaannya menjadi: [TCT x Proceed Amount].

Nah, Reduced Speed adalah 'sisa' losses yang timbul ketika kita menghitung:

[Operating Time - (Net Operating Time + Idling + Minor Stoppage)], dimana Operating Time adalah hasil perhitungan pada artikel saya sebelumnya, Net Operating Time dihitung dari persamaan di atas, sementara Idling dan Minor Stoppage dari hasil pengukuran waktu atas definisi yang kita tetapkan sesuai panduan di alenia sebelumnya.

Reduced Speed, bagi sebagian praktisi dianggap sebagai 'tempat sampah'. Adalah tempat berkumpulnya semua losses yang tidak kita definisikan. Bisa bermula dari hal utama misal mesin kita jalankan pada set kecepatan dibawah Kecepatan acuan, bisa karena berhenti sebentar-sebentar yang tak tercatat, ramp-up ramp-down. Reduced Speed seharusnya bernilai positif. Bila kita tepat dalam mendefinisikan losses sehingga petugas di lapangan paham dan mengukur mencatat dengan baik, maka hasilnya relatif lebih kecil daripada losses lainnya. Bila losses Reduced Speed ini justru besar dominan, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah membedah setiap kejadian losses yang mungkin masuk Reduced Speed untuk kita 'keluarkan' ke losses lain atau buat dulu definisi spesifik bila memang sering terjadi.

Tak jarang Reduced Speed menghasilkan angka negatif. Bisa karena beberapa sebab, tapi semua bermuara kepada hal ketika kita kurang tepat dalam menetapkan TCT. Ingat, TCT sebaiknya melekat unik pada satu mesin terhadap satu produk. Mesin merk sama tapi tipe lain sebaiknya dicermati dan jangan langsung menetapkan TCT sama. Demikian juga sebuah mesin untuk produk berbeda, meskipun itu mungkin hanya variannya yang seolah terlihat tidak mempengaruhi kecepatan mesin.

Pada akhirnya kita akan ketemu prosentase besaran yang dinamakan Performance Efficiency yaitu dengan menghitungnya berdasar persamaan: [(Net Operating Time / Operating Time) x 100%].

 

Pitoyo Amrih

 

Ada sebuah perusahaan fiktif bernama PT MAJU. Perusahaan ini memproduksi air mineral dalam kemasan gelasplastik. Mesin yang dimiliki perusahaan ini adalah mesin pembentuk gelas plastik sekaligus mengisi air mineral, sebanyak dua unit.

Bulan ini pesanan begitu meningkat. Bagian pemasaran yang telah berhasil melakukan promosi membuat bagian produksi jungkir-balik selama dua puluh empat jam menjalankan mesinnya untuk mengejar permintaan bagian pemasaran. Dan sudah terlihat di depan mata, bulan depan pesanan bagian pemasaran naik 30 % dari bulan sekarang. Sementara bulan ini mesin telah jalan siang malam, bahkan minggu pun masuk untuk mengejar kekurangannya.

“Gila! Harus segera saya usulkan membeli satu unit mesin lagi untuk mengejar permintaan bulan depan,” teriak Pak Joni, sang kepala produksi. “Dan awal bulan depan mesin itu sudah di sini..!” imbuhnya.   ...selengkapnya

Bookmark This

Follow Us

Powered by CoalaWeb

 

KupasPitoyo, KumpulanTulisan Pitoyo Amrih, yang juga berbicara tentang Pemberdayaan Diri, ..pemberdayaan berkesinambungan bagi diri sendiri, keluarga, dan bangsa... khususnya melalui budaya... selengkapnya..

Pitoyo Amrih.... terlibat aktif dalam perumusan penerapan konsep-konsep TPM (Total Productive Maintenance) di perusahaan tempatnya bekerja. Juga pernah memimpin kajian dan penerapan rumusan OEE (Overall Equipment Effectiveness) yang bisa.....  ...selengkapnya