Bayangkan suatu saat rumah anda butuh Air Conditioner (AC). Sebentar browsing sana-sini perihal merk type AC. Tanya harga ke beberapa toko. Dan saat kemampuan beli ada, uang muka anda berikan, maka bisa jadi esok hari barang sudah datang. Orang yang datang hampir pasti tidak sekedar para pengantar barang. Mereka juga mampu memasang, mengisi freon, cek pengoperasian. Cukup dinginkah? Beberapa saat kemudian mereka pun mengajarkan kepada anda bagaimana cara mengoperasikan AC. Tombol ini berfungsi itu, tombol itu fungsinya ini, dan sebagainya. Sisa pembayaran pun dilunasi dan selamat tinggal, mereka pergi. Anda menggunakan dan juga tentunya anda harus merawat karena anda pasti tak ingin saat akan memanfaatkannya, AC justru ngadat. Memang ada garansi, dan pada dasarnya paham hak dan kewajiban akan garansi pun sebenarnya bagian dari kegiatan merawat.

Lalu, bagaimana bila kisah tentang AC ini kita tarik kepada semua mesin. Apa saja. Terutama pada mesin-mesin yang secara fungsi melakukan kegiatan ekonomi. Namanya kegiatan ekonomi tentunya harus ekonomis, memberi nilai tambah. Apa yang anda keluarkan untuk mesin harus tidak lebih dari apa yang anda dapat atas keberadaan dan bekerjanya mesin. Sehingga pertanyaan mendasar kemudian apa yang perlu kita lakukan sehingga mesin memang benar-benar memberi nilai tambah keekonomisannya.

Keputusan membeli adalah satu hal. Keputusan mesin mana yang dibeli adalah satu hal lagi. Kedua hal ini bila kita melihat dari perspektif mesin sendiri bisa diwakili dengan kisah daur hidup mesin sejak dari di-desain sampai di beli. Desain sebuah mesin dibuat tentunya adalah jawaban dari kebutuhan tentang akan sebuah fungsi yang bisa diwakili dengan keberadaan alat bantu mesin tersebut. Sehingga sebuah mesin di-desain adalah jawaban dari kebutuhan yang akhirnya muncul keputusan membeli sebuah mesin tersebut.

Dan bila kebutuhan itu adalah sebuah hal yang umum, maka bisa jadi desain dan pembuatan mesin terjadi terus menerus tanpa menunggu seseorang yang memutuskan untuk membeli. Contoh salah satunya adalah AC seperti cerita saya diatas. Sementara ada juga yang mesin dibuat setelah ada keputusan membeli dari seorang pembeli.

Dan kisah perjalanan hidup sebuah mesin itu pun dimulai. Sejak desain, masing-masing komponen dibuat, kemudian seluruh komponen di-assembly , dikemas, dikirimkan, kemudian dipasang, diintegrasikan dengan penunjang lainnya (koneksi listrik, saluran air misalnya, dan sebagainya). Sampai tahapan berikutnya yang berupa kegiatan: pemastian instalasi, pemastian operasional mesin, pembuktian terhadap kinerja mesin, transfer kowledge berupa training dan sebagainya (seperti sang pemasang AC yang mengajari anda mengoperasikan AC) sampai kemudian terjadi serah terima mesin itu sendiri antara penjual dan pembeli yang akan menggunakannya. Rentetan tahapan terakhir inilah yang disebut dengan Commissioning.

Sementara bagian dari kegiatan Commissioning, khusus pada pemastian instalasi, operasional dan kinerja mesin, disebut sebagai kegiatan Kualifikasi (Qualification).

Commissioning berasal dari istilah dulu pada sebuah perusahaan kapal. Saat kapal jadi dan siap berlayar maka dia akan diserahkan pembuat kepada pemakai. Disanalah ada komunikasi. Selain kebutuhan mengoperasikan, juga kebutuhan untuk merawat kapal agar tetap bisa dioperasikan dengan baik. Dan namanya kapal jaman dulu dimana alat komunikasi masihlah sangat terbatas, bisa jadi setelah serah terima kemudian kapal berlayar, maka tak ada lagi interaksi antara pembuat dan pemakai. Itulah pentingnya bahwa pemakai harus memastikan segala hal tentang kapal, dan semua pengetahuan tentang kapal saat itu juga sebisa mungkin di dapat.

Sedang kualifikasi yang merupakan bagian dari kegiatan Commissioning, saat ini banyak dijabarkan sebagai kegiatan yang juga penting dan diperhatikan, bahkan dibuat aturan agar hal itu harus dilakukan untuk beberapa sektor industri, karena tuntutan pemastian fungsi mesin yang harus terdokumentasi sesuai peruntukkannya karena terkait keberadaan mesin yang dianggap bersifat kritis.

Pitoyo Amrih

 

Ada sebuah perusahaan fiktif bernama PT MAJU. Perusahaan ini memproduksi air mineral dalam kemasan gelasplastik. Mesin yang dimiliki perusahaan ini adalah mesin pembentuk gelas plastik sekaligus mengisi air mineral, sebanyak dua unit.

Bulan ini pesanan begitu meningkat. Bagian pemasaran yang telah berhasil melakukan promosi membuat bagian produksi jungkir-balik selama dua puluh empat jam menjalankan mesinnya untuk mengejar permintaan bagian pemasaran. Dan sudah terlihat di depan mata, bulan depan pesanan bagian pemasaran naik 30 % dari bulan sekarang. Sementara bulan ini mesin telah jalan siang malam, bahkan minggu pun masuk untuk mengejar kekurangannya.

“Gila! Harus segera saya usulkan membeli satu unit mesin lagi untuk mengejar permintaan bulan depan,” teriak Pak Joni, sang kepala produksi. “Dan awal bulan depan mesin itu sudah di sini..!” imbuhnya.   ...selengkapnya

Bookmark This

Follow Us

Powered by CoalaWeb

 

KupasPitoyo, KumpulanTulisan Pitoyo Amrih, yang juga berbicara tentang Pemberdayaan Diri, ..pemberdayaan berkesinambungan bagi diri sendiri, keluarga, dan bangsa... khususnya melalui budaya..  this link is under construction..

Pitoyo Amrih.... terlibat aktif dalam perumusan penerapan konsep-konsep TPM (Total Productive Maintenance) di perusahaan tempatnya bekerja. Juga pernah memimpin kajian dan penerapan rumusan OEE (Overall Equipment Effectiveness) yang bisa.....  ...selengkapnya