Let say anda mengelola proyek pengadaan sistem HVAC. Anda sudah lakukan tender proyek kepada beberapa kandidat kontraktor secara fair, kemudian pelaksanaan proyek dari sejak tahap desain, pembuatan, fabrikasi, delivery, instalasi, fungtionality test, sampailah kemudian pada tahap pembuktian yang sering -bila dalam cakupan HVAC lingkup Industri Farmasi- menggunakan istilah CQ, Commissioning-Qualification. Commissioning adalah pembuktian dari sisi fungsionality engineering, kesesuaian terhadap desain dan lebih jauh lagi kesesuaian terhadap kontrak yang dijanjikan. Qualification adalah pembuktian bahwa kinerja HVAC masuk dalam rentang allowable-limit yang ditetapkan regulasi.

Pada lingkup HVAC industri farmasi, salah satu atribut yang mendasar harus dibuktikan adalah kinerja pencapaian suhu dan RH. Dan saya pikir tidak hanya di industri farmasi, di semua industri, pembuktian syarat suhu dan RH pada instalasi HVAC adalah pembuktian kinerja yang pertama kali  harus dilakukan.

Dibuktikan terhadap apa? Tentunya kenyataan hasil uji dibandingkan dengan syaratnya. Hasil uji adalah kita mengukur kondisi ruang yang dilayani HVAC tersebut, syarat adalah hal yang ditentukan diawal disepakati bersama, tentang rujukan angkanya dan tata cara pengukuran dan perhitungannya.

Pertama perihal syarat. Rujukan terhadap syarat angka suhu dan RH, perlu dipahami disini adalah apa yang dalam terminologinya biasa disebut dengan allowable-limit. Adalah rentang syarat yang biasa ditetapkan oleh regulator. Bila di Indonesia, syarat bagi Industri Farmasi adalah yang tertera di CPOB beserta petunjuk operasionalnya. Kemudian Industri biasa menetapkan apa yang disebut sebagai operational-limit. Yaitu rentang lebih sempit yang ditetapkan, biasanya kemudian dituangkan dalam dokumen URS (User Requirement Specification). Mengapa? Karena sebuah jaminan HVAC bisa bekerja selalu didalam allowable-limit, hanya bisa dilakukan ketika kita menetapkan operasi HVAC itu memiliki syarat yang lebih ketat daripada allowable-limitnya. Sampai kemudian penetapan design-limit, yang biasa jadi kesepakatan antara pemilik proyek dan kontraktor. Yaitu angka yang menjadi acuan desain sistem HVAC. Mengapa kesepakatan? Karena design-limit semakin sempit bisa berarti peningkatan biaya pengadaan sistem HVAC itu sendiri. Mungkin tabel syarat dibawah bisa jadi ilustrasi, misalnya untuk pemenuhan klas ruang C dan D, berdasar syarat regulasi (allowable-limit) ditetapkan batasan sbb:

Klas

Ruang

Syarat Suhu (°C)

Syarat RH (%)

Allowable Limit Operational Limit Design Limit Allowable Limit Operatinal Limit Design Limit
C 16-25  18-24 19-23  45-55 46-54  47-53
D  20-27 21-25  20-24  40-60 45-55 46-54

 

Kemudian hal tentang syarat yang juga perlu jelas di awal saat pembicaraan kontrak adalah menyangkut tata cara pengukuran atribut suhu dan RH tersebut. Ruang mana saja yang harus diukur, berapa titik tiap ruang, di titik mana saja (titik yang dianggap memiliki kondisi terburuk -wosrt-case-? Titik mendekati obyek produk?), apakah single-event (hanya sekali pengukuran pada rentang waktu tertentu) ataukah diukur secara terus menerus (logging) dengan interval tertentu (misalnya setiap 15 menit). Sampai dengan cara pengolahan datanya sehingga bisa dibandingkan dengan syarat angka pada tabel diatas. Mengenai rentang lama pengukuran, regulasi sudah menetapkan yaitu untuk klas steril paling tidak selama 5 hari berturut-turut, sedang klas non-steril paling tidak 3 hari berturut-turut. Dan yang tak kalah pentingnya adalah intrumen ukur yang dipakai sebagai uji pembuktian haruslah sudah terkalibrasi. Artinya, intrumen ukur boleh saja memakai intrumen independen atau memakai instrumen terpasang dengan syarat harus didahului proses kalibrasi. Hanya saja keterbatasan menggunakan instrumen terpasang, titik pengukuran hanya bisa mengacu pada penempatan sensor terpasang. Tapi hal ini menurut saya tidak masalah selama secara ilmiah bisa dipertanggung-jawabkan dan disepakati bersama.

Tentang hasil uji, pengukuran single-event memang kurang bisa memperlihatkan kondisi sebenarnya sampai dengan gambaran kemampuan HVAC itu sendiri. Pendekatan ini juga rentan terhadap manipulasi data, karena dalam rentang pengoperasian HVAC selama satu hari, dengan single-event saya hanya bisa mendapatkan satu angka data. Kalaupun waktu pengukuran, di awal sudah disepakati bersama (misalnya saat siang hari), kita tidak pernah tahu apakah siang hari tersebut merupakan kondisi terburuk yang mewakili kemampuan HVAC atau justru bukan.

Lebih obyektif dan bisa menggambarkan kemampuan sistem HVAC secara menyeluruh bila kita bisa melakukan pengukuran secara logging. Salah satu contoh misalnya data yang saya tuangkan dalam bentuk grafik di bawah:

 

Data suhu diatas diambil setiap 30 menit, sehingga dalam sehari didapat 48 data. Diukur selama 5 hari, dimana setiap data pada waktu yang sama dirata-rata. Di grafik control-chart hasil rata-rata tiap waktu selama 5 hari, kita bisa menganalisa sehingga mendapatkan angka rata-rata total, UCL (Upper Control Limit) dan LCL (Lower Control Limit) nya. Yang dalam hal ini diambil plus-minus 1x standar-deviasinya. Gambaran pergerakan suhu selama sehari penuh bisa memberi gambaran bagaimana pencapaian kinerja sistem HVAC. Akan lebih memberi jaminan, bila juga dilengkapi data pengukuran selain saat commissioning dan qualification sebagai syarat keberterimaan sistem, juga ada data saat puncak musim panas dan musim dingin, juga saat dimana ruang diperkirakan memiliki beban tertinggi (mesin bekerja penuh, kondisi orang terbanyak, dsb).

Dari data diatas, kita juga bisa mendapatkan gambaran bagaimana sebaiknya kita melakukan monitoring suhu terhadap ruang tersebut. Dimana dan setiap jam berapa pengambilan datanya.

Sedang di grafik sebelah kanan kita bisa olah secara histogram tentang kapabilitas sistem HVAC itu sendiri terhadap pemenuhan syarat. Kurus gemuknya grafik distribusi normal merupakan gambaran kemampuan umpan-balik sistem HVAC. Sedang titik tengah grafik bisa menjadi acuan bagaimana kita melakukan adjustment terhadap setting suhu HVAC.

Hal yang sama juga bisa kita berlakukan pada pengukuran RH, seperti contoh dibawah hasil pengolahan data dibawah ini:

Dalam pembuktian ini, yang utama adalah kita harus tetap fokus pada 3 hal, yaitu:

1. Bahwa sistem HVAC terpasang harus terbukti memenuhi syarat mutu yang ditetapkan regulasi (kinerjanya dalam rentang allowable-limit).

2. Bahwa sistem HVAC bekerja baik secara fungsionality (memberikan fluktuasi terpola dengan kapabiltas tertentu), dan

3. Bahwa sistem HVAC bekerja sesuai seperti yang dijanjikan kontraktor (kinerjanya dalam rentang operational-limit / URS), sebagai dasar kita melakukan kewajiban termin pembayaran sesuai kesepakatan di dokumen kontrak.

 

Pitoyo Amrih

 

Ada sebuah perusahaan fiktif bernama PT MAJU. Perusahaan ini memproduksi air mineral dalam kemasan gelasplastik. Mesin yang dimiliki perusahaan ini adalah mesin pembentuk gelas plastik sekaligus mengisi air mineral, sebanyak dua unit.

Bulan ini pesanan begitu meningkat. Bagian pemasaran yang telah berhasil melakukan promosi membuat bagian produksi jungkir-balik selama dua puluh empat jam menjalankan mesinnya untuk mengejar permintaan bagian pemasaran. Dan sudah terlihat di depan mata, bulan depan pesanan bagian pemasaran naik 30 % dari bulan sekarang. Sementara bulan ini mesin telah jalan siang malam, bahkan minggu pun masuk untuk mengejar kekurangannya.

“Gila! Harus segera saya usulkan membeli satu unit mesin lagi untuk mengejar permintaan bulan depan,” teriak Pak Joni, sang kepala produksi. “Dan awal bulan depan mesin itu sudah di sini..!” imbuhnya.   ...selengkapnya

Bookmark This

Follow Us

Powered by CoalaWeb

 

KupasPitoyo, KumpulanTulisan Pitoyo Amrih, yang juga berbicara tentang Pemberdayaan Diri, ..pemberdayaan berkesinambungan bagi diri sendiri, keluarga, dan bangsa... khususnya melalui budaya... selengkapnya..

Pitoyo Amrih.... terlibat aktif dalam perumusan penerapan konsep-konsep TPM (Total Productive Maintenance) di perusahaan tempatnya bekerja. Juga pernah memimpin kajian dan penerapan rumusan OEE (Overall Equipment Effectiveness) yang bisa.....  ...selengkapnya