Anda bayangkan mengukur dimensi sebuah benda menggunakan jangka sorong. Taruhlah anda ingin mengukur panjang smartphone anda. Benda anda pegang dengan tangan kiri, kemudian jangka sorong digenggam di tangan kanan, bilah atas dan bawah jangka sorong anda gamitkan dengan tepi-tepi smartphone, dan whoala! Panjang smartphone akan langsung anda lihat saat itu juga pada penunjukkan jangka sorong. Apalagi bila jangka sorong digital yang anda pakai.

Lain ukur dimensi, lain juga mengukur suhu misalnya. Anda ditantang untuk mengukur suhu sebuah ruang, anda ambil termometer, bawa ke ruangan itu, dan whoala! Angka suhu terlihat. Tapi tunggu! Apakah angka suhu yang terlihat di termometer itu menunjukkan suhu ruang itu? Tak semudah itu ternyata!

Alat ukur memiliki sifat yang dinamakan Sensitivity atau dalam bahasa Indonesia -tentu saja- adalah sensitivitas. Kurang lebih menunjukkan kemampuan seberapa cepat alat ukur itu mencapai 'angka hasil pengukuran'. Nah, inilah tantangannya! Angka hasil pengukuran adalah justru hal yang ingin kita ketahui saat mengukur. Lalu bagaimana kita tahu sebuah alat akur sudah mencapai angka hasil pengukurannya? Jangan-jangan saat membaca dan mencatat angka hasil pengukuran, sebenarnya saat itu alat ukur masih 'dalam perjalanan' untuk mencapainya.

Mungkin grafik dibawah bisa lebih menggambarkan:

Waktu yang dibutuhkan sejak dari angka yang ditunjukkan alat ukur sebelum pengukuran sampai dengan tercapainya angka hasil pengukuran (Lama pengukuran) bisa disebut sebagai sensitivity. Semakin pendek, alat ukur dianggap memiliki sensitivitas lebih baik.

Tapi tunggu dulu, sensitivitas adalah sifat alat ukur, sehingga sebenarnya kalau dilihat lebih dalam, sensitivitas bukanlah pada besar waktu yang dibutuhkan, tapi lebih kepada gradien perubahan terhadap waktu. Perubahan angka pengukuran untuk mencapai angka hasil pengukuran tiap waktunya. Bila dilihat secara mutlak (kita tidak melihat positif atau negatifnya, karena itu tergantung dimana angka sebelum pengukuran berada, apakah lebih besar atau lebih kecil dari angka hasil pengukuran nantinya) maka semakin besar perubahan itu, alat ukur dikatakan memiliki sensitivitas yang lebih baik.

Walaupun sensitivitas adalah sifat alat ukur, pada pemahaman lebih jauh lagi, kita bisa mensiasati sifat yang dimiliki alat ukur tersebut. Artinya ketika tahu sebuah alat memiliki sensitivitas yang baik atau buruk, kita tetap bisa menggunakan alat ukur tersebut dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu agar angka hasil pengukuran yang didapat akurat, mendekati nilai sebenarnya obyek pengukuran. 

Pertimbangan-pertimbangan itu antara lain:

Perhatikan rentang kemampuan alat ukur. Walau angka hasil pengukuran secara tepat kita belum tahu sampai pengukuran dilakukan, tapi sebelumnya mungkin kita bisa perkirakan angka itu. Sebaiknya pilih alat ukur yang kita perkirakan angka hasil pengukuran  akan berada pada sekitar 20% s.d 80% rentang kemampuan alat ukur yang akan kita pakai.

Bila kita melihat contoh pengukuran dimensi di atas, sensitivitas jangka sorong bisa dikatakan sangat baik, karena jangka sorong adalah benda padat yang perubahan (penyesuaian) hampir tidak signifikan untuk mencapai angka hasil pengukuran sejak kita selesai menggeser sehingga bilah menyentuh permukaan smatrphone anda. Beda cerita dengan pengukuran suhu ruang. Untuk sensitivitas ukur yang sama, bila angka penunjukkan awal lebih dekat dengan angka hasil pengukuran, maka pencapaian angka hasil pengukuran akan lebih cepat. Sehingga penting agar memberi kondisi alat ukur sebisa mungkin dekat dengan angka hasil pengukuran. Sehingga pada waktu pengukuran tertentu (yang biasanya kita tetapkan dalam prosedur), lebih bisa dijamin ketepatan angka hasil pengukurannya. Itulah mengapa terkadang kita mendapati termometer yang khusus mengukur suhu dingin, disimpan di wadah yang bisa menjaga tetap dingin.

Kita perlu memahami waktu pengukuran harus disesuaikan dengan seberapa jauh kondisi yang kita ukur terhadap kondisi normal. Ambil contoh saat mengukur Kelembaban pada saluran udara. Kondisi semakin kering akan semakin sulit dicapai oleh alat ukur, karena pengukuran yang terjadi pada dasarnya juga merupakan proses penguapan uap air yang tersisa di sensor alat ukur. Saat mengukur kelembaban 40% misalnya, kita mungkin buat prosedur lama pengukuran adalah 5 menit, maka wajar bila kita mengukur kelembaban 20% ditetapkan lama pengukuran 10 menit.

 

Pitoyo Amrih

 

Ada sebuah perusahaan fiktif bernama PT MAJU. Perusahaan ini memproduksi air mineral dalam kemasan gelasplastik. Mesin yang dimiliki perusahaan ini adalah mesin pembentuk gelas plastik sekaligus mengisi air mineral, sebanyak dua unit.

Bulan ini pesanan begitu meningkat. Bagian pemasaran yang telah berhasil melakukan promosi membuat bagian produksi jungkir-balik selama dua puluh empat jam menjalankan mesinnya untuk mengejar permintaan bagian pemasaran. Dan sudah terlihat di depan mata, bulan depan pesanan bagian pemasaran naik 30 % dari bulan sekarang. Sementara bulan ini mesin telah jalan siang malam, bahkan minggu pun masuk untuk mengejar kekurangannya.

“Gila! Harus segera saya usulkan membeli satu unit mesin lagi untuk mengejar permintaan bulan depan,” teriak Pak Joni, sang kepala produksi. “Dan awal bulan depan mesin itu sudah di sini..!” imbuhnya.   ...selengkapnya

Bookmark This

Follow Us

Powered by CoalaWeb

 

KupasPitoyo, KumpulanTulisan Pitoyo Amrih, yang juga berbicara tentang Pemberdayaan Diri, ..pemberdayaan berkesinambungan bagi diri sendiri, keluarga, dan bangsa... khususnya melalui budaya... selengkapnya..

Pitoyo Amrih.... terlibat aktif dalam perumusan penerapan konsep-konsep TPM (Total Productive Maintenance) di perusahaan tempatnya bekerja. Juga pernah memimpin kajian dan penerapan rumusan OEE (Overall Equipment Effectiveness) yang bisa.....  ...selengkapnya