Anda ingin membeli alat ukur timbangan misalnya. Apa yang harus diperhatikan? Tentunya yang pertama adalah kebutuhan penimbangan anda.  Apakah timbangan nantinya akan digunakan untuk menimbang kemasan semen pada ukuran 25 kg atau mungkin 50 kg? Atau anda akan gunakan timbangan untuk menakar logam mulia yang sampai pada angka 0,01 gram pun akan menjadi sangat berarti harganya. Dua kebutuhan itu akan membutuhkan dua macam timbangan yang berbeda.

Tahap berikutnya adalah tentang timbangan yang akan dibeli. Mana yang lebih tepat sesuai kebutuhan? Kalau ada beberapa pilihan sesuai kebutuhan, mana yang lebih baik? Utuk itulah dikenal istilah-istilah dalam alat ukur dan ukur-mengukur. Istilah yang menjadi parameter bagi sebuah alat ukur, bahwa yang ini lebih baik dibanding yang itu. Ada beberapa istilah yang banyak dikenal, namun satu dengan yang lainnya terkadang ada kesalahpahaman.

Beberapa istilah itu adalah:

Resolusi (Resolution), bisa didefinisikan sebagai skala terkecil yang mampu ditunjukkan oleh alat ukur. Ada yang menyamakan istilah ini dengan Readability (Kemampuan-baca), yaitu tingkat kemudahan untuk dibaca atau diketahui, sebuah alat ukur memberikan informasi hasil ukurnya. Biasanya orang membandingkan kedua hal ini antara alat ukur analog dan digital. Alat ukur digital umumnya memiliki resolusi lebih baik (lebih kecil) dibanding alat ukur analog. Tapi perlu disadari, resolusi, atau readability sebuah alat ukur yang lebih baik, bukan berarti dia lebih baik dalam ketepatan menunjukkan hasil pengukuran.

Jangka sorong digitalAlat ukur disamping ini adalah Jangka Sorong Digital. Anda lihat bahwa jangka sorong mampu menunjukkan hasil pengukuran 7,78 mm. Artinya dari penunjukkan digital ini langsung bisa diketahui bahwa resolusi alat adalah 0,01 mm. Jangan lupa setiap angka resolusi harus diikuti dengan satuan!

Berbeda cerita dengan contoh alat ukur analog di bawah. Sebuah alat ukur tekanan dengan jarum analog dibawah memperlihatkan skala terkecil adalah 1 psi. Kebetulan kita tak bisa membandingkan kedua alat ukur ini karena menunjukkan satuan yang berbeda. Untuk itulah perlu dipastikan dulu bila kita ingin membandingkan resolusi dua alat ukur, pastikan keduanya memiliki satuan yang sama.

Bila saja anda suatu saat harus memilih dua jangka sorong yang satu memiliki resolusi 0,02 mm dan yang satu adalahPressure gauge 0,01 mm, maka jangka sorong kedua memiliki resolusi yang lebih baik. Angka resolusi yang lebih kecil artinya memiliki resolusi yang lebih baik. Kembali kepada contoh alat ukur tekanan di samping, mungkin dengan penunjukkan analog diatas bisa jadi jarum menunjuk antara garis 5 dan 6 psi, seorang pengamat boleh saja memperkirakan bahwa sebuah ukuran tekanan adalah 5,4 psi atau 5,8 psi. Tapi disinilah masalahnya, angka dibelakang koma menjadi kurang penting, dan nantinya pasti akan menjadi bagian 'ketidakpastian' (tentang ketidakpastian akan dibahas tersendiri), karena kita tahu resolusi alat ukur ini adalah 1 psi.

Salah satu hal penting dalam memilih alat ukur terkait resolusi ini adalah perihal angka toleransi spesifikasi obyek yang akan diukur nantinya. Hal ini penting karena jelas alat ukur yang memiliki resolusi lebih baik akan terkorelasi dengan harga beli yang lebih tinggi.

Toleransi spesifikasi ini terkadang tidak begitu diperhatikan, tapi seharusnya menjadi hal utama. Misal anda akan membeli timbangan untuk emas batangan sampai berat 200 gram. Tapi berhubung 0,01 gram emas juga memiliki nilai yang tinggi, maka setiap menimbang 200 gram emas bisa kita tetapkan toleransi spesifikasi antara 199,99 gram s.d 200,01 gram. disinilah pentingnya kita membeli timbangan ber-resolusi 0,01 gram.

Cerita yang berbeda, sama-sama menimbang, tapi ini untuk 200 gram gula pasir. Mungkin kita boleh menetapkan timbangan dengan resolusi 1 gram terhadap kebutuhan ini. Didasari kebutuhan yang jangan terlalu muluk-muluk bahwa untk gula pasir boleh dong kita menetapkan toleransi spesifikasi 200 gram pada rentang 199 gram s.d 201 gram.

Seperti analogi beli mobil, untuk kebutuhan angkut sayur mungkin beli pick-up sudah cukup. Tak perlu sedan Mercy.

(bersambung)

Pitoyo Amrih

Ada sebuah perusahaan fiktif bernama PT MAJU. Perusahaan ini memproduksi air mineral dalam kemasan gelasplastik. Mesin yang dimiliki perusahaan ini adalah mesin pembentuk gelas plastik sekaligus mengisi air mineral, sebanyak dua unit.

Bulan ini pesanan begitu meningkat. Bagian pemasaran yang telah berhasil melakukan promosi membuat bagian produksi jungkir-balik selama dua puluh empat jam menjalankan mesinnya untuk mengejar permintaan bagian pemasaran. Dan sudah terlihat di depan mata, bulan depan pesanan bagian pemasaran naik 30 % dari bulan sekarang. Sementara bulan ini mesin telah jalan siang malam, bahkan minggu pun masuk untuk mengejar kekurangannya.

“Gila! Harus segera saya usulkan membeli satu unit mesin lagi untuk mengejar permintaan bulan depan,” teriak Pak Joni, sang kepala produksi. “Dan awal bulan depan mesin itu sudah di sini..!” imbuhnya.   ...selengkapnya

Bookmark This

Follow Us

Powered by CoalaWeb

 

KupasPitoyo, KumpulanTulisan Pitoyo Amrih, yang juga berbicara tentang Pemberdayaan Diri, ..pemberdayaan berkesinambungan bagi diri sendiri, keluarga, dan bangsa... khususnya melalui budaya... selengkapnya..

Pitoyo Amrih.... terlibat aktif dalam perumusan penerapan konsep-konsep TPM (Total Productive Maintenance) di perusahaan tempatnya bekerja. Juga pernah memimpin kajian dan penerapan rumusan OEE (Overall Equipment Effectiveness) yang bisa.....  ...selengkapnya