Mungkin bisa disederhanakan, mengukur dimensi artinya mengukur dengan satuan panjang. Mengukur panjang sebuah benda. Mengukur sebuah jarak antara dua titik, dua lokasi. Sampai kemudian pada turunannya sehingga dapat diketahui luas sebuah bidang atau isi sebuah bangunan volume. Termasuk juga didalam pengertian dimensi adalah sudut.

Dahulu sekali, karena belum banyak terdapat kebutuhan interaksi antar kelompok masyarakat di belahan dunia satu dengan lainnya, mengukur jarak dua titik atau mengukur panjang benda, memakai satuan dengan interpretasi yang cukup bisa dipahami daerah tersebut. Kalaupun jadi standar ya, cukup untuk menyamakan pemahaman dalam lingkup wilayah itu. Di barat sana mengenal satu feet, sementara di sini kalau merujuk pada cerita-cerita dongeng persilatan, ada istilah satu tombak, sepelemparan batu. Tentu saja akan menyisakan pertanyaan kemudian bagaimana kita bisa memberikan interpretasi yang sama terhadap sebuah jarak pada orang yang berbeda. Kita sampaikan satu feet, lalu langkah kakinya siapa? Satu tombak, tombak yang mana? Sepelemparan batu, siapa yang melempar? 

Semakin kemudian manusia antar daerah menjalin interaksi, kebutuhan untuk membuat acuan panjang yang sama pun menjadi hal yang penting untuk disepakati. Satuan panjang yang disepakati bersama itu dinamai 'meter'. Marilah kemudian kita tengok sejarah:

Mulai tahun 1790, orang Eropa terutama, membuat kesepakatan bahwa satu meter adalah 1/10.000.000 (sepersejuta) dari seperempat meridian bumi yang melalui observatorium Paris yang diukur dari Dunkirk (pantai utara Prancis) sampai Barcelona (Spanyol). Di jaman ini mungkin sulit bagi kita membayangkan tentang deskripsi itu menjadi sebuah standar panjang. Bagaimana memastikan dua titik standar itu? Bagaimana verifikasinya? Apakah jarak dua titik itu tidak berubah? Dan banyak lagi pertanyaan yang membuat manusia sulit menjadikan rujukan itu menjadi standar.

Sejak 1840 sampai dengan 1874, orang mulai membuat standar, dimana satu meter adalah panjang sebuah batang terbuat dari platinum dengan penampang persegi panjang berukuran 25 mm x 4,05 mm. Standar ini ketika itu diberi nama Metre de Archieves. Standar ini bertahan sekian lama, dipakai. Sampai kemudian muncul pertanyaan tentang keajegan standar tersebut. Apakah pilihan platinum sudah cukup baik dipakai sebagai pilihan material yang tak akan pernah berubah oleh waktu dan kondisi sekitarnya? Apakah kesepakatan panjang satu meter terhadap standar tersebut perlu disamakan acuan kondisi lingkungannya? Misal standar itu saya pakai sebagai acuan di gurun, kemudian saya pakai acuan di kutub, apakah memberikan panjang yang sama?

Tahun 1875 sampai tahun 1959, acuan itu dikoreksi dengan dibuatnya standar baru terbuat dari Platinum-Iridum. Untuk menghindari kesalahan pengukuran, kedua ujung batang, pada sumbunya dibuat runcing. Sehingga standar satu meter menjadi: jarak antara 2 ujung sumbu batang tersebut. Material Platinum-Iridium sendiri dianggap memiliki ketahanan lebih baik dari material standar sebelumnya. Ditambah syarat pengukuran terhadap standar tersebut, baru berlaku satu meter bila difungsikan pada suhu 20° C. dan tekanan udara atmosfir pada kondisi standar itu disimpan di Laboratorium BPIM di Sevres, Prancis.

Mulai tahun 1960 sampai dengan 1982, standar satu meter dirubah menjadi sesuatu yang dianggap lebih stabil, yaitu: panjang yang sama dengan 1.605.763,73 kali panjang gelombang pada ruang hampa suatu radiasi  yang setara dengan perubahan tingkat 2 p10 dan 5 d5 atom Krypton 86 yang berwarna merah jingga. Standar yang lebih baik dari sisi kestabilan. Hanya saja kesepakatan standar itu hanya bertahan tidak lama karena alasan syarat dan kondisi standar yang dipakai terlalu rumit dan tidak sederhana untuk menimbulkannya.

Sampai kemudian mulai tahun 1983, sampai sekarang, standar itu dibuat lebih sederhana, yaitu panjang jarak yang ditempuh seberkas cahaya di dalam vakum dalam waktu 1/299.792.458 detik. Berawal dari pembuktian ilmiah yang memberi kesepakatan bersama bahwa kecepatan cahaya di ruang hampa tetap dan sudah tertentu, maka jadilah standar ini. Tantangan dari standar ini adalah adanya basaran lain yaitu waktu. Sehingga syarat akurasi pengukur waktu juga menjadi hal utama untuk men-generate standar ini.

Cahaya itu, sesuai kesepakatannya diwakili oleh sinar yang ditimbulkan Iodine Stabilized Helium-Neon Laser. Standar inilah yang sampai sekarang dipakai sebagai standar internasional besaran panjang satu meter. Disebut sebagai primary level besaran panjang untuk satuan meter. Setiap standar panjang satu meter yang dimiliki oleh negara, wajib diverifikasi selisihnya (kegiatan yang disebut kalibrasi) dengan standar itu secara berkala. Standar milik negara yang harus memiliki syarat-syarat keajegan. Standar ini yang kemudian menjadi acuan standar bagi semua laboratorium kalibrasi di wilayah negara itu, sampai kemudian hal itu menjadi acuan bagi semua pengukuran panjang di wilayah itu.

Keterangan gambar: Satu meter adalah jarak yang ditempuh Iodine Stabilized Helium-Neon Laser  didalam ruang hampa (yang memiliki kecepatan 299.792.458 meter/detik, selama 1/299.792.458 detik (sumber gambar: dokumen KIM LIPI Serpong).

 

Pitoyo Amrih

 

 

 

Ada sebuah perusahaan fiktif bernama PT MAJU. Perusahaan ini memproduksi air mineral dalam kemasan gelasplastik. Mesin yang dimiliki perusahaan ini adalah mesin pembentuk gelas plastik sekaligus mengisi air mineral, sebanyak dua unit.

Bulan ini pesanan begitu meningkat. Bagian pemasaran yang telah berhasil melakukan promosi membuat bagian produksi jungkir-balik selama dua puluh empat jam menjalankan mesinnya untuk mengejar permintaan bagian pemasaran. Dan sudah terlihat di depan mata, bulan depan pesanan bagian pemasaran naik 30 % dari bulan sekarang. Sementara bulan ini mesin telah jalan siang malam, bahkan minggu pun masuk untuk mengejar kekurangannya.

“Gila! Harus segera saya usulkan membeli satu unit mesin lagi untuk mengejar permintaan bulan depan,” teriak Pak Joni, sang kepala produksi. “Dan awal bulan depan mesin itu sudah di sini..!” imbuhnya.   ...selengkapnya

Bookmark This

Follow Us

Powered by CoalaWeb

 

KupasPitoyo, KumpulanTulisan Pitoyo Amrih, yang juga berbicara tentang Pemberdayaan Diri, ..pemberdayaan berkesinambungan bagi diri sendiri, keluarga, dan bangsa... khususnya melalui budaya... selengkapnya..

Pitoyo Amrih.... terlibat aktif dalam perumusan penerapan konsep-konsep TPM (Total Productive Maintenance) di perusahaan tempatnya bekerja. Juga pernah memimpin kajian dan penerapan rumusan OEE (Overall Equipment Effectiveness) yang bisa.....  ...selengkapnya