Sebuah perusahaan kurir angkutan sebutlah namanya PT Cepat mendapat order kiriman antar pulau. Termasuk dalam pesanan tersebut, perusahaan ini juga harus membuat menyiapkan kotak kayu ukuran 1 x 1 meter, untuk mengangkut produk klien mereka yang berbentuk kemasan karton box ukuran 50 x 50 cm. Puluhan jumlahnya. Sehingga setiap kotak kayu akan berisi 4 karton box. Jadilah PT Cepat segera memesan kotak kayu ke pabrik rekanan. Dalam tiga hari jadi limabelas kotak kayu. Tapi ada yang aneh, ketika semua karton box datang untuk segera dimasukkan dalam kotak kayu, sebagian karton box masuk secara mudah bahkan terasa longgar, sebagian lagi terasa sangat pas, tapi sebagian lagi kok begitu ketat sehingga karton box harus dipaksa masuk. Yang diperkirakan akan menyulitkan saat nanti membongkar mengambil karton box kembali di tempat tujuan. Apa yang terjadi?

Usut punya usut, rupanya kotak kayu dipesan pada tiga pengrajin kayu yang berbeda. Mereka semua mengklaim membuat dengan benar sesuai perintah pesanan. 1 x 1 meter kotak kayu! Di sinilah pangkal masalahnya, ternyata 1 meter rollmeter milik pengrajin A tidak sama persis dengan rollmeter milik pengrajin B! Demikian juga milik pengrajin C. Lalu bagaimana agar mereka semua memiliki alat ukur panjang yang sama sehingga kotak kayu yang dihasilkan oleh mereka akan selalu sama? Saling pinjam alat ukur jelas tak mungkin.

Inilah salah satu hal pertimbangan kita mengapa perlu sebuah kegiatan yang dinamakan 'kalibrasi' (calibration). Sebuah kegiatan untuk mengukur seberapa besar ketepatan alat ukur yang kita miliki dengan standard yang seharusnya. Standard bisa berupa alat ukur juga, yang lebih dipercaya memiliki akurasi lebih baik. Juga memiliki ketertelusuran terhadap standard, yang artinya secara berkala alat ukur standard ini juga di-kalibrasi terhadap standard yang lebih tinggi. Demikian seterusnya sampai pada puncak standard yang merupakan konvensi sebuah besaran yang disepakati secara internasional.

Standard juga bisa berupa obyek ukur yang telah di-pastikan memiliki besar tertentu, dan memiliki mampu telusur sampai pada standard internasional tadi.

Dan besaran tidak hanya panjang seperti ilustrasi cerita di atas. Tercatat ada sekian banyak lingkup besaran yang diakreditasi oleh KAN kepada sebuah Laboratorium Kalibrasi. KAN (Komite Akreditasi Nasional) adalah lembaga pemerintah Indonesia yang ditugasi memberikan akreditasi (semacam pengakuan secara legal) salah satunya terhadap sebuah Laboratorium Kalibrasi baik yang bekerja hanya pada pijakan ilmiah, atau yang juga melakukan tugasnya sebagai sebuah organisasi usaha.

 

Sementara, seperti yang sudah saya sampaikan diatas, obyek dan alat ukur standar terkalibrasi pada sebuah besaran, akan selalu memiliki mampu telusur kepada standard yang lebih tinggi. Alat ukur dan obyek standard pada lingkup nasional (biasa disebut dengan istilah 'artefak'), saat ini menjadi tanggung jawab lembaga KIM LIPI (Kalibrasi, Instrumentasi dan Metrologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) di Serpong, untuk selalu menjamin keterpeliharaannya. Baik dari sisi fungsi, akurasi dan ketertelusuran, secara ilmiah ataupun administratif.

Berbeda dengan proses 'mengukur' yang menghasilkan angka besaran sebuah obyek ukur, yang diperoleh dari kegiatan 'mengkalibrasi' adalah error (penyimpangan) dan satu lagi angka yang disebut dengan 'ketidakpastian'. Kembali ke ilustrasi cerita di awal, andai saja ketiga pengrajin melakukan kalibrasi terhadap alat ukur panjangnya, mereka akan mengetahui koreksi atas penyimpangan alat ukur mereka beserta ketidakpastiannya. Setiap mengukur mereka akan mempertimbangkan besar koreksi yang harus diberikan. Dan kekeliruan tak perlu terjadi...

Pitoyo Amrih

Ada sebuah perusahaan fiktif bernama PT MAJU. Perusahaan ini memproduksi air mineral dalam kemasan gelasplastik. Mesin yang dimiliki perusahaan ini adalah mesin pembentuk gelas plastik sekaligus mengisi air mineral, sebanyak dua unit.

Bulan ini pesanan begitu meningkat. Bagian pemasaran yang telah berhasil melakukan promosi membuat bagian produksi jungkir-balik selama dua puluh empat jam menjalankan mesinnya untuk mengejar permintaan bagian pemasaran. Dan sudah terlihat di depan mata, bulan depan pesanan bagian pemasaran naik 30 % dari bulan sekarang. Sementara bulan ini mesin telah jalan siang malam, bahkan minggu pun masuk untuk mengejar kekurangannya.

“Gila! Harus segera saya usulkan membeli satu unit mesin lagi untuk mengejar permintaan bulan depan,” teriak Pak Joni, sang kepala produksi. “Dan awal bulan depan mesin itu sudah di sini..!” imbuhnya.   ...selengkapnya

Bookmark This

Follow Us

Powered by CoalaWeb

 

KupasPitoyo, KumpulanTulisan Pitoyo Amrih, yang juga berbicara tentang Pemberdayaan Diri, ..pemberdayaan berkesinambungan bagi diri sendiri, keluarga, dan bangsa... khususnya melalui budaya... selengkapnya..

Pitoyo Amrih.... terlibat aktif dalam perumusan penerapan konsep-konsep TPM (Total Productive Maintenance) di perusahaan tempatnya bekerja. Juga pernah memimpin kajian dan penerapan rumusan OEE (Overall Equipment Effectiveness) yang bisa.....  ...selengkapnya